Peradaban manusia adalah produk dari kecerdasan, struktur kompleks, dan beragam hukum yang berkembang sepanjang waktu. Blok bangunan fundamental peradaban tersebut telah mengarahkan manusia menuju inovasi baru dalam bentuk seni, musik, arsitektur, dan filsafat. Inovasi-inovasi ini telah membantu peradaban berkembang dan meningkatkan kecerdasan manusia melalui berbagai revolusi.
Dalam perkembangan peradaban manusia, dua revolusi sejarah besar telah memberikan dampak yang signifikan: Revolusi Pertanian dan Revolusi Industri. Revolusi Pertanian merupakan satu-satunya alasan terciptanya masyarakat, sedangkan Revolusi Industri membantu meningkatkan produktivitas masyarakat secara keseluruhan. Namun, Revolusi Industri juga telah mengubah sumber produktivitas ekonomi dari pertanian ke pabrik.
Munculnya dunia yang digerakkan oleh data
Abad ke-21 telah menyaksikan era baru dengan laju perubahan teknologi yang pesat. Revolusi teknologi informasi menandai pergeseran dari teknologi elektronik mekanik dan analog ke elektronik digital.
Peningkatan besar dalam daya komputasi dan munculnya layanan berbasis internet telah membuat dunia menjadi lebih saling terhubung. Hal ini telah memengaruhi seluruh kehidupan kita dan hampir setiap sektor aktivitas manusia modern seperti perbankan, perdagangan, pembelajaran, pengajaran, dan manajemen.
Revolusi Industri meningkatkan kekuatan mekanik manusia, dan teknologi informasi memperluas kekuatan intelektual manusia melalui komputasi dan teknologi yang kompleks. Dorongan kekuatan intelektual ini mengarahkan umat manusia menuju ledakan kecerdasan melalui kecerdasan buatan.
Awal dari tatanan dunia berbasis mesin.
“Kecerdasan buatan” dulunya merujuk pada konsep-konsep menarik tentang mesin yang menjadi cukup cerdas untuk meniru kehidupan manusia dalam hal proses pengambilan keputusan. Namun saat ini, mesin-mesin tersebut telah menjadi kenyataan dan bagian integral dari kehidupan kita, serta secara aktif menjadi bagian dari tempat kerja. Contoh terbaiknya adalah chatbot, yang belajar dari percakapan kita dan menangani pertanyaan-pertanyaan rumit. Jenis pembelajaran mendalam ini, yang memungkinkan mesin untuk memproses informasi dan mencapai makna tertentu tanpa bergantung pada algoritma perilaku yang telah ditentukan sebelumnya, sangat canggih.
Prototipe ini dianggap sebagai kecerdasan buatan non-sentien, yang hanya melakukan satu fungsi atau tugas. Namun, kemajuan terbaru di bidang ini melalui berbagai inovasi teknologi telah membuktikan bahwa AI dapat melakukan berbagai operasi kompleks dalam sepersekian detik. Baru-baru ini, Google AlphaGo mencetak sejarah dengan mengalahkan lawan manusia dan memenangkan permainan papan berusia 2.000 tahun yang jauh lebih kompleks daripada catur dan tidak dapat dikuasai melalui taktik brute-force.
Meskipun potensi penuh AI belum tercapai, perusahaan dan industri berat telah mulai mengintegrasikan beberapa kecerdasan buatan dalam operasi bisnis sehari-hari mereka untuk mencapai peningkatan efisiensi.
Seiring dengan semakin meluasnya penggunaan kecerdasan buatan, teknologi ini menjadi bagian dari kehidupan pribadi kita sehari-hari melalui produk-produk seperti Amazon Alexa, Google Home, dan Apple HomePod. Hal ini dipandang sebagai Revolusi Industri Keempat yang menjangkau rumah-rumah kita.
Namun pertanyaan sebenarnya yang harus menjadi perhatian umat manusia adalah apakah Revolusi Industri Keempat (4IR) yang dipimpin oleh AI ini akan membantu memecahkan masalah-masalah paling kompleks di dunia dan dampak apa yang dapat ditimbulkannya bagi umat manusia dalam waktu dekat.
Kita sudah melihat dampak Revolusi Industri 4.0 dalam bentuk AI di bidang perawatan kesehatan, keamanan, dan pendidikan, yang sebagian besar bergantung pada data. Meskipun otak manusia mampu memahami data yang paling kompleks sekalipun, ia memiliki keterbatasan, yaitu kecepatan pemrosesan data. Batasan otak manusia ini dapat diatasi oleh kecerdasan buatan.
AI dapat secara langsung mempertimbangkan variabilitas gen, lingkungan, dan gaya hidup sebelum pengobatan suatu penyakit. Hal ini akan memungkinkan dokter untuk memiliki data yang lebih akurat yang akan meningkatkan ketepatan pengobatan medis, sehingga mempercepat pemulihan pasien.
AI akan sangat membantu meningkatkan produktivitas pertanian dengan mengurangi pemborosan dan menerapkan teknik baru dengan proses pertanian yang jauh lebih presisi.
Dampak potensial terbesar dari AI akan terasa di dunia kerja dan pasar kerja. Sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh McKinsey & Company menunjukkan bahwa pada tahun 2030, lebih dari 800 juta pekerja di seluruh dunia akan digantikan oleh AI dan robot. Pengurangan lapangan kerja terbesar diperkirakan terjadi di bidang transportasi, penyimpanan, manufaktur, dan ritel.
Tak lama lagi, AI akan mengambil alih pekerjaan yang paling berulang dan membosankan, sehingga memungkinkan individu untuk menghabiskan waktu berkualitas pada pemecahan masalah kreatif, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas.
Tak lama lagi, tantangan yang dihadapi umat manusia akan dianggap sebagai pertarungan antara manusia dan mesin dalam hal produktivitas dan efisiensi.
Peningkatan pesat AI dalam masyarakat akan berdampak besar pada gaya hidup kita. Akan ada kendaraan otomatis, dan robot cerdas yang melakukan pekerjaan sehari-hari seperti menjawab email dan menangani operasi entri data. Namun, keterlibatan mesin otomatis yang begitu besar akan meningkatkan keresahan sosial karena sepenuhnya mengubah sifat pekerjaan.
Bahaya nyata bagi umat manusia ditimbulkan oleh kecerdasan buatan yang memiliki kesadaran. “Kecerdasan buatan yang memiliki kesadaran” mengacu pada mesin yang cukup sadar akan dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya, serta memiliki kemampuan untuk memproses sejumlah besar data secara real-time. Mesin-mesin yang sadar ini akan mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan paling mendasar tentang masalah hukum dan etika terkait keberadaan mereka sendiri sebagai budak manusia, bukan sebagai mitra atau bahkan tuan mereka.
Bagaimana masa depan umat manusia ketika menghadapi mesin-mesin cerdas yang memiliki lebih banyak informasi, struktur yang jauh lebih kompleks, dan hukum yang beragam berdasarkan kode? Masyarakat yang berkembang di sekitar mesin-mesin cerdas seperti itu perlu melakukan introspeksi serius untuk menghindari risiko menjadi tidak relevan.
Gagasan tentang Homo machinus kemungkinan akan menjadi satu-satunya pilihan bagi umat manusia, di mana pikiran manusia akan menyatu lebih erat dengan kecerdasan buatan sebelum munculnya singularitas. Ras ini akan menjadi produk kombinasi kecerdasan biologis dengan kecerdasan digital untuk membantu mereka bersaing dengan mesin. Kemitraan antara manusia dan mesin ini akan melahirkan peradaban baru yang etika dan masa depannya belum dapat dipahami saat ini.








Leave a Reply